MODUL KARAKTERISTIK BENIH

BAB II

PEMBELAJARAN

 

A.     Pembelajaran 1 : Pengertian Biji dan Benih

1.     Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari pembelajaran 1 ini, diharapkan Siswa mampu :

  1. Menjelaskan pengertian biji.
  2. Menjelaskan pengertian benih.
  3. Menjelaskan pengertian perbenihan.

    Dengan benar sesuai dengan konsep baku.

 

2.     Uraian Materi

a.     Pengertian Biji

Pengertian biji dan benih sering disama artikan. Padahal sebetulnya kedua istilah tersebut memiliki definisi yang berbeda. Berikut ini akan dijelaskan satu demi satu tentang definisi dari biji dan benih berdasarkan bahan ajar yang digunakan.

Biji adalah bakal tanaman yang didalamnya terdapat embrio sebagai hasil perkawinan antara sel gamet jantan dan sel gamet betina pada tanaman berbunga. Biji memiliki 3 bagian dasar yaitu: embrio, jaringan penyimpan cadangan makanan dan jaringan pelindung.

1) Embrio

Embrio adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet jantan dan gamet betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang berkembang sempurna akan terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut: epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), radikula (calon akar).

Secara umum pada setiap tanaman memiliki 3 tahap perkembangan embrio yaitu: tahap pertama atau tahap Pra embrio dimana embrio pada saat ini masih berbentuk bulatan kecil kemudian berubah bentuk seperti hati pada saat kotiledon mulai berkembang. Tahap kedua ditandai dengan terus bertambahnya kotiledon menjadi berbentuk torpedo atau lonjong yang panjangnya hampir memenuhi seluruh biji. Tahap ketiga terbentuknya ketiga struktur secara lengkap dan disertai bertambah beratnya embrio.

 

2) Jaringan Penyimpan Cadangan Makanan.

Pada biji ada beberapa bagian yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan yaitu: Kotiledon, Endosperm, Perisperm dan Gametofite betina yang haploid. Cadangan makanan yang dimaksud itu sendiri terdiri dari Karbohidrat, lemak, protein dan mineral.

 

3) Pelindung biji

Pelindung biji biasanya disbut dengan kulit biji (testa), bagian lain yang dapat juga disebut sebagai pelindung biji adalah Pericarp dan lapisan Aleuron. Fungsi kulit biji adalah untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis, atau serangan cendawan bakteri maupun insekta.

 

b. Pengertian Benih

Benih adalah bahan tanaman yang berasal dari generatif maupun vegetatif yang digunakan untuk tujuan mengembangbiakan tanaman hutan (Permenhut P.1/Menhut-II/2009). Benih dalam hal ini adalah dapat berupa biji (generatif) dan bahan tanaman lain selain biji yang berasal dari bagian tanaman yang dapat digunakan untuk mengembangbiakan tanaman hutan. Mulai dari akar, batang, daun, maupun pucuk.

Dalam pengertian tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud benih adalah bahan tanaman yang digunakan untuk tujuan mengembangbiakan tanaman hutan. Terdapat kata kunci “tujuan mengembangbiakan”. Dengan kata lain biji atau bahan vegetatif yang tidak digunakan untuk tujuan mengembangbiakan tanaman bukan dinamakan benih.

Berkenaan dengan pengertian biji dan benih Kartasapoetra 1986 membedakan sbb. Biji akan tetap disebut biji apabila:

1. Biji itu berkembang menjadi suatu tanaman tanpa melibatkan tangan manusia, misalnya biji yang terbawa angin, yang disebarkan oleh burung dan lain sebagainya.

2. Biji digunakan tidak untuk ditanam atau untuk perkembangbiakan, melainkan untuk dikonsumsi baik oleh manusia maupun binatang ternak.

3. Biji digunakaan untuk bahan dasar industri, seperti biji kopi, coklat, dll.

4. Biji bagi kepentingan penelitian (sebagai objek penelitian).

5. Biji untuk bahan baku untuk hasil kerajinan, seperti biji salak, jambu mete dll.

6. Biji merupakan hasil dari tumbuhan berbunga.

 

 

Sifat-sifat benih berdasarkan daya simpannya dibedakan menjadi:

1. Benih Rekalsitran adalah benih yang memiliki daya simpan yang singkat.

2. Benih Ortodok addalah benih yang memiliki daya simpan yang relatif lama.

Kedua ciri-ciri benih tersebut sbb:

Benih Ortodok

Benih Rekalsitran

1. Dapat disimpan dengan kadar air 5-10%

Hanya dapat disimpan sampai kadar air 25-30%

2. Pelindung biji berupa kulit biji pada umumnya keras

Pelindung biji pada umumnya tidak keras

3. Memerlukan perlakuan khusus untuk berkecambah

Tidak memerlukan perlakuan khusus untuk berkecambah

4. Kesesuaian lahan relatif luas

Kesesuaian lahan relatif lebih sempit

 

c. Pengertian Perbenihan

Proses peralihan dari biji yang kemudian digunakan untuk pengembangbiakan tanaman sehingga menjadi benih, kemudian berkembang menjadi benih yang siap ditanam (bibit) dan seluruh prosesnya tercakup dalam kegiatan perbenihan. Secara baku Perbenihan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan sumberdaya genetik, pemuliaan tanaman hutan, pengadaan dan pengedaran benih dan bibit, dan sertifikasi. Tujuan kegiatan perbenihan adalah mendapatkan benih bermutu dalam waktu yang relatif singkat dan jumlah yang banyak.

 

Apa benih bermutu itu?

Benih bermutu adalah benih yang memiliki keunggulan secara fisik, fisiologis dan genetik.

  • Mutu Fisik adalah mutu benih yang bgerkaitan dengan sifat fisik seperti ukuran benih, keutuhan, kondisi kulit, kerusakan kulit benih akibat serangan hama dan penyakit atau proses mekanis, dll.
  • Mutu Fisiologis adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisiologis seperti daya kecambah, daya simpan, viabilitas dll.
  • Mutu Genetik adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat yang diturunkan oleh induk kepada anakannya.

     

3. Rangkuman

  • Biji adalah bakal tanaman yang didalamnya terdapat embrio sebagai hasil perkawinan antara sel gamet jantan dan sel gamet betina pada tanaman berbunga.
  • Benih adalah bahan tanaman yang berasal dari generatif maupun vegetatif yang digunakan untuk tujuan mengembangbiakan tanaman hutan.
  • Perbenihan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan sumberdaya genetik, pemuliaan tanaman hutan, pengadaan dan pengedaran benih dan bibit, dan sertifikasi
  • Tujuan kegiatan perbenihan adalah mendapatkan benih bermutu dalam waktu yang relatif singkat dan jumlah yang banyak.

 

 

4. Tugas

Siswa diberikan form isian untuk mengamati dan menggambar bagian-bagian biji yang diberikan oleh guru, atau mencari sendiri biji yang berasal dari pohon/tegakan yang berada disekitar sekolah. Dengan form isian sebagai berikut:

Tabel isian ciri-ciri benih tanaman hutan

No

Jenis

Gambar benih

Keterangan

Ciri-ciri fisik Benih

Sifat benih

Nama Lokal

Nama Botani

Gambar

Ortodoks

Rekalsitran

1

5. Latihan Soal    1.

Pilihan Ganda

Pilihlah satu jawaban yang menurut anda paling benar!

 

1. Bakal tanaman yang berasal proses penyerbukan dan berkembang menjadi bagian pelindung, embrio dan jaringan cadangan makanan disebut:

a. Perbenihan    b. Benih    c. Bibit        d. Biji e. Semai

 

2. Tempat memproses benih menjadi bibit disebut:

a. Pembibitan     b. Persemaian c. Bibit          d. semai        e.Benih

3. Benih dibawah ini yang termasuk benih ortodok adalah :

a. Rambutan hutan (Nephenthes mutabile)        d. Nyamplung (Callophyllum innophilum)

b. Meranti (Shorea leprosula)            e. Matoa (Pometia pinata)

c. Durian (Durio zibethinus)

 

4. Suatu kegiatan yang dilakukan, yang bersangkut paut dengan benih dinamakan :

a. Pembibitan     b. Persemaian        c. Perbenihan d. Semai    e. Benih

 

5. Kotiledon adalah bagian biji yang akan berkembang menjadi:

a. Embriyo            d. Calon daun

b. Calon akar        e. Calon dahan

c. Calon batang

 

6. Benih di bawah ini termasuk benih Rekalsitran adalah:

a. Lamtorogung (Leucaena leucocephala)        d. Cendana ( Santalum album)

b. Aldvokat (Persea Americana) e. Gelodokan ( Polialthia longifolia)

c. Kemiri ( Aleurithus moluccana)

 

7. Benih tanaman rekalsitran memiliki kisaran kadar air :

a. 5-10%        b. 10-15%    c. 15-20%        d. 20-25%        e. 25-30%

 

8. Berikut ini adalah ciri fisiologis benih bermutu, Kecuali:

a. Tahan terhadap hama             d. Keutuhan dari proses mekanis

b. Memiliki kesesuaian tapak luas        e. Daya kecambah

c. Daya simpan yang lama.

9. Hipokotil adalah bagian biji yang akan berkembang menjadi:

a. Embriyo            d. Calon daun

b. Calon akar e. Calon dahan

c. Calon batang

 

 

 

 

10. Benih ortodok memiliki ciri-ciri sebagai berikut, Kecuali:

a. Dapat disimpan dalam waktu relative lama    d. Perlu perlakuan perkecambahan

b. Mudah berkecambah                e. Sudah muncul tunas sebelum benih jatuh

c. Memiliki kesesuaian lahan yang luas.

Soal Benar atau Salah

Pilihlah satu jawaban yang menurut anda paling benar!

1.    B – S Benih dapat berasal dari biji dan setiap biji pasti benih.

2.     B – S     Bagian biji terdiri dari 3 bagian yaitu kulit pelindung, jaringan cadangan makanan dan Embrio.

3.     B – S Benih yang bermutu adalah benih yang memiliki genetik unggul yang dihasilkan oleh satu pohon.

4.    B – S Benih yang berukuran besar lebih cepat berkecambah dibanding benih berukuran kecil.

5.      B – S Benih yang bersifat rekalsitran memiliki daya simpan benih yang lama.

6.      B – S Semakin tinggi daya kecambah benih maka mutu benih semakin rendah.

7.      B – S     Pada tanaman jati terdapat 4 biji dalam satu benih.

8.      B – S Benih yang bermutu adalah benih yang mampu ditanam di berbagai tapak penanaman.

9.    B – S Benih rekalsitran memiliki daya kesesuaian lahan yang luas.

10.     B – S Benih yang bermutu adalah benih yang mampu disimpan dalam jangka waktu yang lama.

 

Essay:

  1. Biji dan benih sering terjadi kesamaan definisi, Bagaimana cara anda membedakan secara praktis antara biji dan benih tersebut?
  2. Berdasarkan sifat-sifatnya, benih dibagi menjadi benih ortodoks dengan benih rekalsitran, sebutkan masing -masing 5 contohnya. Jelaskan langkah-langkah anda dalam membedakan kedua benih tersebut?

 

B. Pembelajaran 2: Pengertian Benih Generatif

1. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari pembelajaran 2 ini, diharapkan siswa mampu:

  • Menjelaskan pengertian benih generatif.
  • Menjelaskan ciri-ciri benih generatif.
  • Menjelaskan sifat benih generatif.

     

2. Uraian Materi

a. Pengertian Benih Generatif

Benih generatif adalah benih yang berasal dari proses generatif. yaitu terjadinya peleburan sel gamet jantan dan sel gamet betina kemudian membentuk zygot dan terus berkembang sehingga menghasilkan biji. Biji tersebut apabila digunakan oleh manusia untuk tujuan pengembangbiakan tanaman maka disebut benih generatif.

Adapun ciri-ciri dari benih generatif diantaranya adalah:

  1. Berasal dari tanaman berbunga.
    1. Hasil Zigot
    2. Berasal dari biji tanaman
    3. Memiliki genetik dari gabungan antara 2 pohon induk jika terjadi silang luar pada proses penyerbukan,
    4. Lambat tumbuh tunas
    5. Cepat tumbuh akar
    6. Akar tunggang besar
    7. Tidak Tampak hidup (genotif)
    8. Proses Pengadaan Lambat

10. Tidak butuh dari tenaga terampil

11. Dapat berkembang dan menyebar secara alami

 

Untuk mendapatkan benih generatif yang berkualitas perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Benih yang dikumpulkan dari banyak pohon induk yang tidak berkerabat.
  • Benih yang memiliki daya kecambah tinggi.
  • Benih yang berasal dari hasil silang luar.

Dalam benih generatif daya kecambah merupakan faktor penentu keberhasilan yang utama. Karena sebaik apapun materi yang terkandung didalam benih tersebut jika pada akhirnya tidak bisa berkecambah maka tetap perkembangbiakan dari benih menjadi bibit dan tanaman tidak akan terjadi. Ada beberapa hal yang mempengaruhi daya kecambah benih yaitu dari dalam benih:

1. Tingkat kemasakan biji, biji yang dipanen sebelum tercapainya masak secara fisiologis akan memiliki viabilitas yang rendah. bahkan pada beberapa tanaman tertentu benih yang demikian tidak akan bisa berkecambah. Hal tersebut dikarenakan benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup untuk mendukung berkembangnya embrio menjadi tanaman. Dan bisa juga disebabkan oleh embrio tanaman itu sendiri yang belum sempurna walaupun cadangan makanan sudah cukup tersedia.

2. Ukuran Benih, benih yang berukuran besar memiliki cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan benih yang berukuran kecil. Selain itu benih yang berukuran besar juga dimungkinkan memiliki embrio yang besar pula. Benih yang memiliki cadangan makanan yang lebih banyak akan memiliki protein, lemak dan karbohidrat yang lebih banyak pula sehingga proses perkecambahan embrio dimungkinkan akan terjadi secara baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Worker and Ruckman dalam Sutopo 1984 disebutkan bahwa ukuran benih memiliki korelasi positif terhadap ukuran kecambah. Semakin besar ukuran benih maka semakin besar kecambah yang dihasilkan. Namun tidak ada kaitan yang nyata antara ukuran benih dengan kecepatan berkecambah dan daya kecambah benih yang dihasilkan.

3. Dormansi, adalah istilah yang menjelaskan bahwa benih pada saat itu adalah pada keadaan hidup namun tidak mau berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang memungkinkan benih tersebut berkecambah. Biasa diistilahkan dengan masa tidur benih. Periode dormansi bervariasi ada yang berlangsung musiman dan ada juga jenis tanaman hutan tertentu yang memiliki masa dormansi yang relatif lama. Tanaman yang memiliki masa dormansi yang cukup lama biasnya detemukan pada benih ortodok.

4. Penghambat perkecambahan, banyak zat-zat yang dapat menghambat perkecambahan benih diantaranya:

  1. Larutan dengan tingkat osmotik tinggi, seperti larutan NaCl / garam-garaman
  2. Bahan-bahan yang mengganggu lintasan metabolisme umumnya menghambat respirasi tanaman, seperti Sianida, dinitrofenol, fluorida, hydroxilamine.
  3. Herbisida.
  4. Auxin

Sedangkan faktor luar yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih adalah:

1. Air, air merupakan syarat penting bagi berlangsungnya perkecambahan. ada 2 faktor yang mempengaruhi penyerapan air oleh benih yaitu a) Kulit pelindung yang mudah menyerap air b)Jumlah ketersediaan air dalam medium disekitar benih. Air memang memiliki korelasi terhadap proses perkecambahan namun jika terlalu banyak air/lembab justru akan menyebabkan benih layu atau diserang cendawan/jamur dan juga merangsang penyakit menyerang benih itu sendiri. Sehingga dapat menurunkan daya kecambah benih walaupun secara tidak langsung.

2. Temperatur, merupakan syarat penting kedua bagi perkecambahan benih. Benih pada umumnya dapat berkecambah pada temperatur optimum yaitu pada suhu 26O C – 35OC. Walaupun ada tanaman pada iklim subtropis yang dapat berkecambah pada suhu 10 OC, namun pada umumnya pada temperatur 0 OC -5 OC benih akan gagal berkecambah atau akan terjadi kerusakan /chilling yang mengakibatkan terbentuknya kecambah abnormal.

3. Oksigen (O2), selama benih hidup benih selalu melakukan respirasi. Saat proses perkecambahan terjadi proses respirasinyapun ikut meningkat. Hal ini ditunjukan dengan peningkatan pengambilan oksigen, pelepasan karbondioksida uap air dan panas. Dengan terbatsnya oksigen maka proses perkecambahan akan terhambat. Energi yang dihasilkan dari respirasi tersebut digunakan untuk mensuplai metabolisme embrio untuk berkecambah.

4. Cahaya, benih memiliki kebutuhan cahaya yang berbeda-beda dalam proses perkecambahan. Berdasarkan kebutuhan terhadap cahaya dalam proses perkecambahannya benih dibagi menjadi 4 golongan yaitu:

a. Benih yang memerlukan cahaya secara mutlak dalam proses perkecambahanya. Contoh: beringin

b.Benih yang memerlukan cahaya untuk mempercepat proses perkecambahanya. Contoh : tembakau

c. Benih yang terkena cahaya akan menghambat proses perkecambahannya. Contoh : Allium sp

d. Benih yang dapat berkembang baik ditempat gelap maupun ditempat terang. contoh: Sengon (famili Fabaceae).

 

Kenapa benih memiliki kepekaan terhadap cahaya? karena pada jenis benih tertentu memiliki suatu pigmen yang dinamakan phytochrome yang tersusun dari chromophore dan protein.

5. Media perkecambahan yang digunakan, media yang baik untuk proses perkecambahan benih adalah yang memiliki sifat fisik yang baik seperti gembur, mempunyai kemampuan menyimpan air dan bebas dari hama dan penyakit.

 

Tipe Perkecambahan Benih

Terdapat dua tipe perkecambahan benih yaitu:

1. Tipe Epigeal (Epigeous) adalah tipe perkecambahan benih dimana radikula dan hipokotil memanjang secara keseluruhan sehingga menyebabkan kotiledon dan epikotil (calon pucuk)ikut terangkat diatas permukaan tanah. contoh : pada famili Fabaceae seperti sengon, akasia, lamtoro. dll

2. Tipe Hipogeal (hypogeous) adalah tipe perkecambahan benih dimana pemanjangan radikula hanya diiringi pemanjangan epikotil, sedangkan kotiledon masih tetap berada pada kulit biji. Sehingga sebagian besar biji tetap berada di bawah permukaan tanah. Contoh : Mangga, Jati, Gmelina dll

Proses Perkecambahan

Para ahli fisiologis benih menyatakan bahwa perkecambahan adalah munculnya radikula menembus kulit benih. Para agronomis menyatakan bahwa perkecambahan adalah muncul dan berkembangnya struktur penting embrio dari dalam benih dan menunjukkan kemampuannya untuk menghasilkan kecambah normal pada kondisi lingkungan yang optimum.

Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Penyerapan air menyebabkan meningkatnya aktivitas enzim. Peningkatan aktivitas enzim diiringi dengan peningkatan respirasi benih sehingga tersedia cukup energi untuk melakukan pemanjangan sel. Radikula berkembang akan keluar dari pelindung biji dan masuk kedalam tanah dan berubah menjadi akar. Epikotil memanjang dan berubah menjadi pucuk.


 

 

b. Rangkuman

  • Benih generatif adalah benih yang berasal dari proses generatif
  • Ciri-ciri benih generatif adalah yang paling penting adalah berkecambah sebelum menjadi tanaman
  • Perkecambahan benih dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal (Kemasakan biji, Dormansi, ukuran benih, dan faktor zat penghambat) sedangkan faktor eksternal (air, cahaya, tempeartur, dan Media Kecambah)

 

 

c. Tugas

Berdasarkan ciri-ciri yang tentang benih generatif, maka siswa:

1. Mencari referensi mengenai jenis tanaman hutan di Indonesia dan termasuk kedalam tanaman yang dilindungi (hampir punah) atau tanaman yang memiliki potensi lebih jika dikembangkan dimasa mendatang. Minimal setiap kelompok memiliki 4-5 jenis tanaman hutan. Setiap kelompok memiliki jenis tanaman yang tidak boleh sama dengan kelompok yang lain.

2. Setiap kelompok harus mendapatkan data:

a.Waktu/ bulan pembungaan dan berbuah.

b. Ciri-ciri buah dan biji, Klasifikasikan kedalam benih rekalsitran apa ortodok?

c. Cari referensi tentang dormansi jika ada.

3. Buatlah Laporan.

 

d. Soal Latihan 2.

Pilihan Ganda

Pilihlah satu jawaban yang menurut anda paling benar!

1. Benih generatif adalah benih yang berasal dari:

a. Spora    b. Cross    ing    c. Gamet     d. Zygot e. Endosperma

 

2. Pada proses perkecambahan dimana seluruh bagian biji terangkat keatas permukaan tanah disebut :

a. Epikotil            d. Hypokotil

b. Hypogeal            e. Mikrofil

c. Epigeal

 

3. Tipe perkecambahan dimana endosperma muncul di atas permukaan tanah disebut :

a. Epikotil            d. Hypokotil

b. Hypogeal            e. Mikrofil

c. Epigeous

4. Faktor dalam yang berpengaruh terhadap proses perkecambahan benih adalah

a. Sinar            d. Air

b. Temperatur        e. Zat penghambat

c. Media

 

5. Zat pengahambat yang berpengaruh terhadap proses perkecambahan benih adalah:

a. Phytochrome        d. Giberelin

b. Auxin e. Natrium

c. Phosphate

 

 

6. Temperatur optimum bagi benih untuk dapat berkecambah adalah:

a. 15-25oC    b. 25-35 oC c. 35-45 oC     d. 45-55 oC     e. > 55 oC

 

7. Berikut ini adalah tanaman kehutanan yang memiliki tipe berkecambah epigeous:

a. Jengkol, Rambutan, Jati.

b. Rambutan    , Lamtoro, Jati.

c. Gmelina, Alpukad, Rambutan.

d. Lamtoro, Rambutan, Alpukad

e. Alpukad, Gmelina, jati.

 

 

Soal Benar atau Salah

Pilihlah satu jawaban yang menurut anda paling benar!

 

Essay:

1. Jelaskan Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih?

2. Jelaskan urutan proses perkecambahan benih?

 

 

C. Pembelajaran ke 3: Pengertian Benih Vegetatif

1. Tujuan Pembelajaran

Setelah melakukan pembelajaran ke 3, Siswa diharapkan mampu:

a. Menjelaskan pengertian benih vegetatif.

b. Menjelaskan kegiatan perbenihan vegetatif.

Dengan benar dan sesuai dengan konsep baku.

 

2. Uraian Materi

a. Pengertian Benih Vegetatif

Benih vegetatif merupakan benih yang berasal dari bagian tanaman. Seperti akar, batang, cabang, daun ataupun pucuk. Perbanyakan secara vegetataif adalah kegiatan mengembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian dari tanaman. Bisa berasal dari tunas, daun, cabang, batang dan akar. Keunggulan dari perbanyakan benih secara generatif adalah sifat yang dimiliki induk sama persis dengan anakan. Tanaman yang dihasilkan seragam dan pengadaan bibit dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu musim.

Ada beberapa jenis teknik dalam perbanyakan benih secara vegetatif, namun secara garis besar perbanyakan benih dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu:

a.1. Perbanyakan vegetatif makro

Perbanyakan vegetatif makro terdiri dari cangkok, menyambung, dan stek. Cara ini sudah banyak dilakukan masyarakat karena tekniknya sederhana. Cangkok ditujukan untuk pembangunan sumber benih dan tidak sesuai untuk pembangunan hutan tanaman dalam skala luas. Menyambung ditujukan untuk pembangunan sumber benihdan pengadaan bibit. Sedangkan stek hanya untuk tujuan perbanyakan bibit dan pengadaanya. Teknik perbanyakan vegetatif dengan menggunakan stek dan menyambung membutuhkan kebun pangkas yang berfungsi sebagai sumber mata tunas dan sumber bahan stek.

1. Cangkok.

Mencangkok atau yang dikenal dengan istilah air layerage dilakukan terhadap batang tanaman dewasa yang sudah diketahui sifat unggulnya. Prinsip utama pembuatan cangkok adalah merangsang bagian batang tanaman untuk berakar dengan cara memutuskan sistem kambiumnya.

Tahapan pembuatan cangkok.

  • Pemilihan pohon induk, pemilihan pohon induk dilakukan dengan memilih induk yang baik berdasarkan penanmpilan fenotip, tanaman sudah berbunga dan tertunya pilih cabang orthothrop yaitu cabang yang pertumbuhannya keatas/vertikal.
  • Pencangkokan,
    • Penyiapan media cangkok terdiri atas campuran antara top soil dan kompos.
    • Sebelum digunakan media disiram dengan air sampai cukup kelembabannya, serta ditaburi
    • insektisida secukupnya supaya media tidak dijadikan sarang semut dan membunuh hama uret.
    • Pemanjatan pohon dan pemilihan cabang yang sehat dengan diameter rata-rata 2 – 4 cm.
    • Cabang dikerat sepanjang 5 cm dengan menggunakan pisau cangkok, kulit cabang dikelupas dan bagian kambiumnya dibersihkan dengan cara dikerik dan dibiarkan beberapa menit. Posisi kerikan kulit sekitar 30 cm dari pangkal cabang. Setelah itu bagian sayatan diolesi dengan larutan ZPT untuk memacu pertumbuhan akar.
    • Menutup luka sayatan pada cabang dengan campuran media yang telah disiapkan, kemudian ditutup dengan plastik bening yang kuat agar memudahkan melihat perakaran pada saat pemanenan hasil cangkok. Kemudian diikat dengan tali rafia sehingga media cangkok stabil. Bagian pembungkus cangkok dilubangi agar memudahkan masuknya air atau keluarnya akar ketika cangkok telah berakar dengan baik.
    • Memberi label yang berisi tanggal pencangkokan, perlakuan dan pelaksana
  • Penyapihan, apabila akar sudah tumbuh, maka pemotongan cabang dan ditanam didalam polibag dan disimpan di tempat teduh atau diberi naungan. Pengurangan daun dilakukan untuk mengurangi evaporasi dari daun.
  • Pemeliharaan cangkok, pemeliharaan terdiri dari penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama penyakit.
  • Penanaman hasil cangkok, apabila tunas dan daun baru dari bibit yang dicangkok mulai tumbuh dan kelihatan perakaran sudah tumbuh dan kompak, maka bibit siap di tanam dilapangan.

     

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan pencangkokan antara lain :

  1. Pencangkokan sebaiknya dilakukan pada musim hujan sehingga akan membantu dalam menjaga kelembaban media sampai berakar.
  2. Pengambilan cangkok dilakukan setelah cangkok berumur 2 – 3 bulan. Pemotongan cangkok menggunakan gergaji kemudian diturunkan secara hati-hati. Cangkok yang terlalu panjang dipotong sebagian dan daunnya dikurangi untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar.
  3. Cangkok yang telah dipisahkan dari pohon induknya segera ditanam (aklimatisasi) pada media campuran tanah dengan kompos/pupuk kandang (3:1). Kegiatan ini dilakukan di persemaian yang diberi naungan dengan intensitas cahaya lebih dari 50%. Pemeliharaan cangkok di persemaian dilakukan sampai bibit siap ditanam di lapangan. Biasanya setelah 3 bulan cangkok telah memiliki perakaran yang kompak dan siap dipindahkan ke lapangan.
  4. Pembuatan cangkok pada satu pohon tidak bisa dilakukan dalam jumlah banyak, karena akan mengganggu atau merusak pohon tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Proses Aklimatisasi hasil cangkok

 

2. Teknik sambungan (grafting)

Pembuatan bibit jati
dengan teknik sambungan dilakukan dengan menyambungkan scion berupa bagian pucuk/tunas dari tajuk pohon plus pada tanaman batang bawah/root stock yang telah disediakan. Teknik ini akan mempertahankan sifat dewasa pohon induknya, sehingga anakan yang dihasilkan akan cepat berbunga/berbuah. Teknik ini biasa digunakan untuk kegiatan penyiapan materi untuk bank klon, kebun persilangan dan kebun benih klon.

Bahan dan peralatan yang diperlukan untuk kegiatan ini antara lain bibit Jati. Bahan dan peralatan lainnya adalah parafil/plastik pengikat sambungan, kantong plastik bening ukuran 1 kg, obat/pasta penutup luka tanaman (wax), tali rafia, pita label, pisau sambung, pisau cutter, gunting stek, penggaris dan alat tulis.

Pembuatan sambungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Penyiapan root stock berupa semai jati
    yang telah siap tanam yaitu berumur 4- 6 bulan dengan diameter batang 0,5 cm -1 cm. Bibit dipilih yang sehat, tidak menunjukkan adanya serangan hama/penyakit.
  2. Bibit root stock dipangkas dengan gunting stek dengan tinggi pangkasan rata-rata 30 cm tergantung pada diameternya. Semakin kecil diameter maka pemangkasan dapat lebih rendah dari 30 cm. Permukaan batang pada titik pangkasan dihaluskan dengan pisau sambung/cutter, kemudian ujungnya dibelah/disayat dengan pisau grafting secara hatihati sepanjang 1,5 cm -2 cm.
  3. Penyiapan scion yaitu tunas/trubusan pada tajuk pohon induk. Tunas yang baik untuk scion adalah yang jaringan gabusnya sedikit. Ukuran scion dipilih yang sesuai dengan root stock. Bagian pangkal scion disayat secara hati-hati dengan panjang sayatan pada root stock.
  4. Pembutan sambungan dilakukan dengan mengunakan teknik top clept graft atau veneer graft. Root stock dan scion disambung secara hati-hati sehingga bagian kambium keduanya bersatu, kemudian diikat dengan
    parafilm dan ditutup dengan plastik bening untuk memelihara kelembaban udara. Plastik dibuka secara
    bertahap dengan cara menggunting sebagian sampai akhirnya dilepas.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bibit sambungan adalah sebagai berikut :

  1. Penyambungan sebaiknya dilakukan di persemaian dengan naungan sarlon 50 – 65 % atau pagi/sore hari sehingga tidak terlalu panas.
  2. Penyambungan dilakukan segera setelah scion diambil dari pohon induk karena lamanya waktu penyimpanan scion akan mengurangi tingkat keberhasilan hidup sambungan.
  3. Pemeliharaan tanaman hasil sambungan harus dilakukan secara rutin seperti : penyiraman, penyiangan, pembuangan tunas yang tumbuh pada batang root stock, membuka plastik sungkup sambungan secara bertahap setelah sambungan tersebut tumbuh.

 

 

3. Teknik stek pucuk (cuttings)

Pembibitan dengan teknik stek pucuk umumnya dilakukan dalam rangka produksi bibit secara massal untuk keperluan operasional penanaman. Dengan teknik ini dapat dihasilkan dalam jumlah besar. Bahan yang digunakan adalah bahan stek dari tunas/trubusan yang diperoleh dari kebun pangkas, sedangkan media stek yang digunakan adalah pasir, zat pengatur tumbuh, bak plastik/ember, label, fungisida, gunting stek/pisau cutter.

Untuk kegiatan pembibitan dengan stek pucuk diperlukan beberapa fasilitas penunjang yaitu tempat pembibitan dapat dilakukan di rumah kaca atau bedengan persemaian yang ditutup dengan sungkup plastik. Untuk persemaian skala besar diperlukan peralatan lainnya yaitu pengaturan naungan, pengaturan suhu dan ventilasi, alat penyiraman dan kelembaban udara yang dijalankan secara otomatis merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang keberhasilannya. Selain itu diperlukan sumber air yang tersedia sepanjang tahun, sumber bahan stek (kebun pangkas) dan tempat penyimpanan media stek.

Kebun pangkas perlu dibangun sebagai sumber bahan stek yang menghasilkan tunas secara terus menerus. Pembangunan kebun pangkas sebaiknya dilakukan dengan menggunakan materi tanaman dari pohon plus, sehingga bibit yang akan dihasilkan memiliki kualitas genetik yang baik/unggul. Menurut Kartiko (2000) materi tanaman yang dipergunakan untuk membangun kebun pangkas berasal dari benih hasil penyerbukan terkendali antara pohon-pohon plus dan klon hasil perbanyakan vegetatif dari pohon plus. Pembuatan stek pucuk dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Penyiapan media stek dalam polibag/kantong bibit/tabung bibit.
  2. Pembuatan stek dengan cara memotong trubusan menjadi beberapa bagian. Satu stek terdiri atas 2 mata/nude. Tunas dipilih yang belum membentuk jaringan gabus, kemudian direndam stek pada larutan fungisida.
  3. Sebelum ditanam bagian pangkal stek dicelupkan kedalam larutan ZPT, kemudian stek ditanam pada media yang telah diberi lubang tanam terlebih dahulu.
  4. Bedengan stek ditutup plastik sungkup untuk memelihara kelembaban udara tetap tinggi sekitar 90% dan perlu diberi naungan dengan intensitas cahaya 15% – 25 % untuk bedengan tanpa pengabutan dan intensitas cahaya 30% – 50% untuk bedengan dengan sistem pengabutan.
  5. Pemeliharaan rutin meliputi penyiraman, penyemprotan fungisida dan pembersihan gulma dan setelah stek berakar stek lalu disapih ke media pertumbuhan agar bibit tumbuh baik sampai siap tanam. Biasanya bibit sudah siap tanam pada umur 4 bulan.

     

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pembibitan dengan teknik stek pucuk adalah :

  1. Semakin tinggi pemangkasan akan mempengaruhi tingkat keberhasilannya. Dari hasil penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa hasil stek pucuk tunas dari trubusan pada batang yang dipangkas 100 cm rata-rata hanya mencapai 17,5 %.
  2. Umur trubusan yang baik untuk bahan stek pucuk jenis jati
    optimal sekitar 45 – 60 hari. Bertambahnya umur tunas mengurangi daya perakaran stek. Untuk memudahkan dalam menentukan masa panen tunas dapat dilihat dari panjang tunas yaitu apabila telah mencapai panjang 30 cm – 40 cm (Longman,1993).
  3. Tipe pertumbuhan tunas harus diperhatikan dengan memilih tunas yang memiliki pertumbuhan ke arah vertikal (ortotropic). Tunas yang bersifat plagiotropic sebaiknya tidak digunakan karena akan menghasilkan bibit yang tumbuhnya tidak normal (mendatar seperti cabang).
  4. Posisi trubusan pada tonggak akan mempengaruhi kemampuan berakar stek. Semakin tinggi posisi tunas pada tonggak maka kemampuan berakarnya semakin rendah.

 

a. 2. Perbanyakan Vegetatif Mikro

Perbanyakan vegetatif mikro pada jati dapat dilakukan dengan cara kultur jaringan. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa kultur jaringan dapat meningkatkan kualitas genetik padahal hal tersebut tidak benar. Kultur jaringan adalah hanya sebuh teknik perbanyakan vegetatif sama seperti cangkok, stek, ataupun grafting. Kultur jaringan tidak bisa meningkatkan kualitas genetik.

 

Pembuatan kultur jaringan.

Dalam kegiatan kultur jaringan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu pemilihan eksplan (bahan tanaman) yang muda /juvenile, pH media, konsentrasi dan jenis zat pengatur tumbuh yang digunakan serta yang terpenting adalah sterilisasi dari keseluruhan tahapan kerja.

Media yang digunakan mengandung bahan garam mineral, asam amino, gula, vitamin dan hormon tumbuh dan pada umumnya menggunkan media agar supaya tanaman eksplan dapat berdiri. Adapula yang menggunakan media air tanpa menggunakan agar, namun pada jati secara umum menggunakan media agar. Media disteriliasi dengan menggunakan autoclave dengan menggunakan suhu dan tekanan yang tinggi dengan tujuan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme yang akan mengganggu pertumbuhan eksplan.

Sedangkan eksplannya sendiri dapat disterilkan dengan menggunakan bahan kimia yang tidak mematikan sel dan jaringan. Bahan kimia tersebut dapat berupa klorox, alcohol 70% dll. Penempatan eksplan kedalam media harus dilakukan dalam ruang steril yang disebut dengan laminar air flow. Sebelum digunakan laminar air flow juga harus disterilkan yaitu dengan menyemprotkan alkohol 70% dan penyinaran dengan lampu UV selama kurang lebih 1 jam.

Setelah proses penanaman di dalam laminar air flow selesai, seluruh botol kultur ditutup rapat dengan menggunakan isolatip khusus dan dipindahkan ke ruang kultur dimana suhu dan pencahayaan harus diatur sedemikian rupa sehingga proses pertumbuhan dapat optimal.

3. Rangkuman

  1. Benih vegetatif adalah benih yang berasal dari bagian tanaman seperti akar, batang, daun, cabang ataupun pucuk.
  2. Untuk mendapatkan benih vegetatif dapat dilakukan perbanyakan makro dan perbanyakan mikro.
  3. Perbanyakan makro untuk tanaman kehutanan pada umumnya dengan teknik cangkok, stek, menyambung. Sedangkan perbanyakan mikro dengan teknik kultur jaringan.
  4. Benih vegetatif memiliki sifat yang 100% sama dengan induknya.

 

Untuk Mendownload Modul Lengkap Silahkan kunjungi:

http://www.4shared.com/file/K145nRXS/MODUL_Karakteristik_Benih_tana.html

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s